BENCANA DAN ILMU PENGETAHUAN

Syairil Fadli

Belakangan ini, kita sering membaca dan mendengar berita media massa, baik cetak maupun elektronik, mengenai peristiwa antagonism alam di berbagai belahan dunia. Masih segar dalam ingatan kita adalah berita mengenai tsunami yang terjadi di negeri sakura, Jepang, atau jatuhnya merpati airlines di Papua, Indonesia. Apakah musibah itu dari alam atau karena kelalaian manusia, orang begitu mudah menyebutnya dengan bencana, padahal tentu tidak semudah itu orang mesti mengatakannya.


Bencana tak dapat dilepaskan dari keberadaan manusia di muka bumi ini. Memang. manusia pada awalnya menganggap dirinya sebagai viator mundi, makhluk yang melancong ke bumi. Kini, manusia menganggap diri sebagai faber mundi atau makhluk yang menciptakan dunianya. Idealnya, tantangan alam sudah teratasi berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya; manusia tidak saja mampu mengontrol dunia fisis tetapi juga menentukan tujuan jalan sejarahnya atas tanggung jawab sendiri dengan segala konsekuensinya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:30).

Khalifah di muka bumi tentu bukan sekedar tempelan yang diberikan Tuhan kepada makhluk yang bernama manusia, ada tanggung jawab yang harus diemban agar kekhalifahan itu terjaga, sehingga “protes” yang dilakukan malaikat itu tidak semua benar. Buktikan bahwa kita bukanlah makhluk perusak dan suka menumpahkan darah. Bahkan apa yang telah dilakukan para malaikat itu pun dapat juga kita lakukan, kita tidak hanya sanggup mengingat Tuhan, tetapi kita juga dapat memikirkan bagaimana seharusnya mengelola alam ciptaan Tuhan ini. Hal ini sudah disinyalir oleh Al-Qur’an sebagaimana termaktub dalam 2 (dua) ayat berikut ini, yang artinya:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal/yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imrān [3]:190-191).

Relevan dengan fungsi manusia, baik pribadi maupun umum, apakah manusia itu sebagai khalifah, maupun sebagai hamba Allah, sudah seharusnya bagi semua pihak, terkena aturan dalam pengelolaan alam harus menyadari bahwa bumi  itu senantiasa bergerak. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai membaca alam dan zaman. Ayat pertama yang diturunkan kepada umat Muhammad menyuruh agar manusia mau membaca berbagai hal

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan/Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah/Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,/yang mengajar dengan perantaran kalam/Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq [96]:1-5).

 

Manusia sudah dipandang sebagai makhluk otonom, bebas, dan mandiri. Akan tetapi, untuk sampai pada kesadaran faber mundi, manusia memerlukan waktu yang cukup lama: di antaranya memahami masa lampau guna menjaga hari ini agar berlanjut sampai masa akan datang. Setiap individu pada dasarnya mempunyai keterlibatan dan komitmen terhadap setiap peristiwa yang dilihat atau yang dialaminya sehingga tidak hanya bersikap pasif, tetapi juga sebagai aktor yang berperan aktif dalam setiap peristiwa atau dengan kata lain, manusia itu pelaku sekaligus pejuang dalam sejarah.

Sayangnya, masih saja ada orang yang sering memaksakan dan merekayasa sebab-sebab agar dapat mempunyai akibat-akibat sesuai dengan prediksi dan keinginan mereka. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan alam semesta tetap saja terselubung, selain itu, alam juga dapat “memberontak” dalam prahara seperti kebakaran hutan, banjir bandang, tsunami, dan menepisnya lapisan ozon. Pengelolaan alam pada dasarnya adalah tanggung jawab manusia secara keseluruhan, konsekuensinya kembali kepada manusia itu sendiri. Pengelolaan alam  yang dikelola secara baik, benar, dan indah akan mendapatkan hasil yang juga baik, benar, dan indah, atau sebaliknya, jika alam tidak dikelola dengan baik, benar, dan indah, maka ia akan hancur sehingga bumi sebagai tempat berpijak kembali sunyi seperti semula karena manusia sebagai penghuni utama musnah akibat perbuatannya sendiri. Bahkan, tidak itu saja, kecorobohan, untuk tidak mengatakan kebodohan, juga menyebakan bumi pun turut “musnah.”

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali. (QS. A-Rum [30]:41)

Dengan demikian, jika ada gejala alam yang menunjukkan suatu peristiwa seperti gempa bumi dan disusul tsunami, atau bentuk-bentuk lain, maka seharusnya manusia mengantisipasi dengan segala cara oleh akal dan teknologi yang dihasilkannya sehingga manusia terhindar dari apa yang disebut bencana.